OTAKU - AKUT

Beautiful flowers have thorns, and there’s nothing more expensive than what’s free [A Place To Share My Obsession] otaku akut pindah ke otakuakut.online situs ini akan menjadi blog back up untuk situs utama kami. terimakasih

PENGUMUMAN



Hallo semuanya, OTAKU-AKUT di sini! saya harap semuanya baik-baik saja dan menikmati terjemahan novelnya. Kami baru saja bermigrasi ke wordpress, jadi jika kalian ingin menikmati novel terbaru yang dulu pernah di post di blog ini, silahkan kunjungi OTAKU-AKUT dengan domain .online [ otakuakut.online ] bukan ke alamat terdahulu [otakuakut.blogspot.com] BLOG ini akan di alih fungsikan sebagai BACKUP UNTUK BLOG UTAMA KAMI. Ingar tidak peduli bagaimana anda mendukung kami, kami sangat berterima kasih!!

Wednesday, January 9, 2019

January 09, 2019

To Be Power in Shadows Chapter 11

Chapter 11:
“Konflik itu Menghibur, Ketika Kau Tidak Terlibat”





Translator : Void
Editor: EGOIST [Wagamama Translation]




Luasnya…”

Aku tak bisa apa-apa selain mengatakannya dengan keras saat aku melangkah ke ruang kelas Royal Capital Bushin Group 1.

Dalam area stadion raksasa, selain ruang ganti, ada juga pemandian, bar, dan beberapa fasilitas lainnya. Bahkan pintunya otomatis (ditenagai oleh maid).

Kebetulan, ruang kelas Grup 9 ada di luar, baik itu hujan atau cerah. Tidak ada pintu, jadi maid-san tidak diperlukan.

Agar tidak terlibat dengan semua itu, aku berlari dengan kecepatan super, lalu tinggal di pojokan untuk menunggu Alexia.

Setelah beberapa saat.

“Ayo kita lakukan sedikit peregangan dulu.

Alexia yang mengenakan dougi masuk ke TKP.

Yang digunakan untuk perempuan adalah gaun panjang dengan celah yang dalam, sangat mirip gaun Cina tanpa hiasan. Warnanya hitam. Bushin Style menggunakan warna untuk menunjukkan kemahiran – hitam untuk yang terbaik, putih untuk pemula.

Punyaku tentu saja putih. Aku satu-satunya yang putih di kelas ini. Aku menonjol seperti jempol bengkak.

Mengabaikan tatapan yang terdiri dari 70% permusuhan dan 30% rasa ingin tahu, aku mulai melakukan peregangan.

“Menarik.”

Kata Alexia sambil mengikuti apa yang ku lakukan.

Di dunia ini, ide untuk peregangkan sebelum berlatih sudah diketahui, tetapi cara melakukannya belum ditetapkan, jadi semua orang hanya melakukannya dengan cara mereka sendiri.

Mereka yang melakukan olahraga tetapi meremehkan pentingnya peregangan pasti akan menghancurkan tubuh mereka. Di dunia ini, sihir entah bagaimana bisa merawat luka semacam itu, tetapi masih akan ada efek pada kinerjanya.

Tentang hal itu, Alexia sebenarnya cukup teliti, yang patut dipuji. Aku juga sangat teliti dalam hal apa pun yang berhubungan dengan pertempuran. Aku memiliki keyakinan sebanyak yang ku lakukan dalam rasa minuman yang selalu ku minum di ‘East Coast’.

[Void-note: Maaf, saya juga ngak paham dia membahas apa]
[EGOIST: km aja gak paham apalagi aku. Wkwk]

Setelah beberapa saat, kelas dimulai.

“Hari ini dan seterusnya, seorang teman baru akan bergabung dengan kita.”

Begitulah kata guru yang bertugas memperkenalkan ku.

“Namaku Sid Kagenou. Mohon bantuannya.”

Kemudian datang rentetan tatapan dari orang-orang yang sama sekali tidak menganggap ku sebagai teman.

Aah, seperti yang diharapkan dari Grup 1. Hanya dengan melihat sekilas, keberadaan orang-orang super penting ada di sana-sini. Ikemen di sana adalah putra kedua dari keluarga Duke, gadis cantik itu adalah putri dari pemimpin saat ini dari ‘Magic Swordsman Knight Order’, dan bahkan instruktur berpedang kelas ini adalah ‘Instruktur Pedang Negara’. Ia bahkan seorang ikemen pirang dan berusia 28 tahun.

“Semuanya, tolong rukun.”

Setelah itu kelas di mulai.

Mulai dari kontrol sihir melalui meditasi, sampai ke pelatihan dasar seperti latihan ayunan.

Bagus, ini bagus. Dasar-dasarnya penting. Di Grup 9, kami hanya melakukan latihan singkat sebelum semua orang mulai memukul pedang mereka satu sama lain. Tapi di sini mereka benar-benar mengerti apa yang mereka lakukan.

Semua orang di sini tampaknya tingkat tinggi, jadi ini benar-benar lingkungan yang sangat baik.

Di atas segalanya, Royal Capital Bushin Style ini adalah salah satu yang sangat masuk akal. Luar biasa bahwa setiap usaha yang dituangkan ke dalamnya tidak akan pernah sia-sia.

“Apa kamu menyukai Royal Capital Bushin Style?”

Itulah yang ditanyakan padaku saat ikemen pirang itu mendekati ku. Jika ku ingat, namanya adalah Zenon Griphi.

“Apa aku terlihat begitu?”

“Oh ya, kamu terlihat sangat menikmatinya.”

Menanggapi jawaban ku, Zenon-sensei memberikan tawa yang menyegarkan.

“Seperti yang mungkin sudah kamu ketahui, Royal Capital Bushin Style adalah cabang baru dari Bushin Style. Gaya tradisional Bushin Style awalnya merupakan gaya yang paling populer di negara kita, jadi Royal Capital Bushin Style yang direformasi memiliki awal yang kuat. Kemudian dengan dukungan Putri Iris, itu menjadi gaya paling populer kedua di negara ini, setelah tradisional Bushin Style.”

“Aku pernah dengar bahwa Sensei juga pendukung yang cukup berpengaruh dalam gaya ini.”

“Apa yang telah ku lakukan tidak signifikan jika dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh sang putri. Tapi meskipun begitu, aku merasa seperti aku adalah bagian dari perintis Royal Capital Bushin Style ke posisi seperti sekarang ini. Itu sebabnya ketika aku melihat orang lain menyukai gaya ini, aku sangat bahagia sehingga aku tidak dapat menahan diri. Maaf karena mengganggu latihanmu.

Dengan itu, Zenon-sensei pergi untuk menonton siswa lain. Aku juga sangat memahami perasaannya. Aku suka melihat Alpha dan gadis-gadis lainnya mengayunkan gaya berpedang ku. Gaya berpedang ku adalah sesuatu yang ku kembangkan sendiri, jadi perasaan diakui ketika melihat orang lain menggunakannya adalah jenis kebahagiaan yang luar biasa.

“Apa yang kalian bicarakan?”

Itulah pertanyaan Alexia.

“Tentang Royal Capital Bushin Style.”

“Fuun. Bagaimanapun, selanjutnya adalah ‘mass’, jadi berpasanglah dengan ku. ”

‘Mass’ mengacu pada latihan ringan dari bentuk pertarungan yang sebenarnya.

Intinya adalah untuk mengkonfirmasi penggunaan teknik tertentu dan menangkisnya, tanpa menyentuh lawan.

“Bukankah perbedaan penguasaan kita terlalu jauh?”

“Tidak akan jadi masalah.”

Jadi kami saling berhadapan dengan pedang kayu kami.

Aku membuat gerakan, yang akan ditangkis oleh Alexia.

Kemudian dia membuat gerakan, dan aku menangkisnya.

Serangan itu tidak mendarat, dan gerakan kami lambat.

Kami juga tidak makai sihir apa pun.

Di sekitar kami ada beberapa pasang yang sepenuhnya menggunakan sihir dan saling menyerang dengan keras, tetapi yang mengejutkan Alexia menyesuaikannya dengan ku.

Tidak, daripada menyesuaikannya dengan ku… Ini mungkin apa yang biasanya dia lakukan. ‘Mass’ pada akhirnya merupakan konfirmasi teknik, jadi sama sekali tidak perlu kecepatan atau kekuatan. Dia memiliki pandangan yang kuat tentang tujuan yang sebenarnya dari pelatihan ini.

Itu bisa dilihat hanya dari melihat pedangnya.

Kakak perempuannya, Putri Iris, dipuji karena kekuatannya dan didukung oleh semua orang di negara ini. Jenius, ‘wizard’, setiap orang memiliki kata yang berbeda untuk memujinya. Saat ini, dia bahkan dikatakan sebagai yang terkuat di seluruh negeri.

Di sisi lain, reputasi Alexia tidak begitu bagus. Dia memiliki sihir, dan gaya berpedangnya sangat sederhana, tapi kalah jika dibandingkan dengan kakak perempuannya. Itulah penilaian terhadap Alexia yang dimiliki oleh masyarakat umum.

Tapi sekarang aku di sini berdiri di hadapannya, aku menyadari bahwa gaya berpedangnya adalah gaya berpedang yang cukup bagus.

Setia pada dasar-dasar, pondasi yang kuat, dan polos.

Yap, itu polos. Tetapi kepolosan itu adalah kristalisasi dari usahanya. Setelah semua yang tidak berguna dihapus, maka sisanya hanya terus membangun di atas pondasinya, selangkah demi selangkah.

Delta, lihat ini dengan baik.

Aku tidak bisa menahan diri untuk secara mental memanggil nama gadis ‘beastman’ yang mengayunkan pedang yang sulit untuk ku akui.

“Gaya berpedang yang bagus.”

Demikian kata Alexia.

“Terima kasih.”

“Tapi aku tidak suka itu.”

Jadi dia tipe yang akan memujimu sebelum menjatuhkanmu.

“Hal itu membuatku seperti memandang diri ku sendiri. Jadi berhentilah.”

Itu yang dikatakannya, dan mulai berkemas. Sepertinya kelas hampir selesai.

Bertentangan dengan anggapan publik, aku dengan aman bisa melewati kelas tanpa terjadi apa pun yang tidak diinginkan. Ayo cepat berkemas, ganti baju, lalu kembali dengan kecepatan penuh…

“Tunggu sebentar.”

Atau tidak.

Alexia mencengkeram leherku dan menyeretku ke suatu tempat.

“Jadi ini adalah jawabanmu?”

Untuk beberapa alasan, kami datang ke Zenon-sensei.

Ya. Aku telah memutuskan untuk bersama dengannya.

“Kamu tidak bisa terus seperti ini. Kamu tahu itu kan?”

Pertanyaan Zenon-sensei dengan mata yang terlihat marah.

“Kami anak-anak tidak mengerti dengan urusan orang dewasa.”

Kata Alexia dengan tawa ‘hohoho’.

Berdasarkan percakapan ini, aku akhirnya mengerti sebagian besar dari apa yang terjadi. Alasan mengapa aku dibawa ke sini, dan alasan mengapa dia memutuskan untuk bersama dengan ku.

Sambil berdoa dengan sungguh-sungguh agar aku tidak terlibat, aku menyerahkan diri dan hanya menonton kedua protagonis ini dalam acara mereka.




  SEBELUMNYA TOC / SELANJUTNYA 

Friday, November 30, 2018

November 30, 2018

I Became a Living Cheat Chapter 2


Chapter 2:
The High and Lows of a Leveling Game


Translator : Void
Editor: Utsugi



Sebelum ia bertemu Hera, Taiyou adalah seorang siswa SMA yang sangat normal.

Untuk ujian, ia biasanya belajar di menit-menit akhir yang memungkinkannya untuk menghindari kegagalan. Untuk kelas latihan fisik ia hampir tidak bisa bersaing dengan siswa lain baik ketika ditrek maupun lapangan sehingga ia tidak akan menjadi penghalang. Wajahnya juga rata-rata......... Selain itu ia berpikir bahwa tidak ada kesempatan baginya untuk mendapatkan pacar dan setiap tahun pada hari Valentine dan Natal dia akan sendirian.

Dia berkhayal memiliki teman masa kecil yang berjanji untuk menikah atau bahkan baik-baik saja baginya untuk dipanggil ke dunia lain oleh gadis cantik berambut merah muda (Bishoujou) dan diperlakukan sebagai anjing peliharaan. Jika itu terjadi terjadi itu akan seperti pukulan home run bagi Taiyou. Sial baginya tidak ada peristiwa seperti itul yang dapat memicu hidupnya.

Oleh karena itu seperti hari biasanya, baginya: penglihatan, pengecap, pembau, peraba dan pendengarannya akan menjadi seperti hari biasa ...... Setidaknya begitu seharusnya.

Di pagi hari, Taiyou mengenakan seragam sekolah dan berjalan  ke sekolah sementara memainkan ponsel pintarnya.

Dia baru  memperoleh ponsel pintar ini kemarin, dan itu di iklankan di internet sebagai model terbaru,  ponsel kokoh dengan jaminan pelanggan yang luar biasa.

Layar tidak memiliki goresan sedikitpun, dan pada layar ponselnya terdapat pendekar perempuan dari dunai fantasi bergaya barat, prajurit wanita itu bergerak sangat lancar sementara bertarung dengan moster berwarna metalik. Sementara sembari berjalan Taiyou mengendalikan karakter itu, dan satu demi satu dia mengalahkan monster berwarna metalik yang muncul.

Di sudut layarnya, terpampang level karakternya. Dia berlevel 254. Bagi dirinya, kenyataan bahwa levelnya begitu tinggi menjadi pertanda bahwa permainan itu mendekati akhir.

"Selamat pagi Natsuno, bermain game itu lagi?"

"Hm? Oh ternyata kamu Nakajima. Selamat pagi."

Karena sebuah suara memanggilnya Dia memalingkan wajahnya dari telepon dan Dia melihat seseorang yang berdiri di sampingnya, teman sekelasnya Nakajima Katsuki.

Dia bukanlah seperti yang kalian kira,  bukanlah seorang teman dekat ataupun sahabat, Katsuki hanyalah orang yang ramah pada umumnya dan ia akan berbicara dengan semua orang, Taiyou juga sudah terbiasa berbicara dengannya.

Saat Dia terus berjalan berdampingan dengan Katsuki, Dia mengalihkan tatapannya kembali pada ponsel pintarnya dan terus berjalan.



"Apa yang kamu mainkan? ... .. tunggu, kau sudah memaikannya sedari tadi, apa itu game online?"

"Tidak, ini hanya game RPG biasa .  Hampir  tidak ada fungsi online yang tersedia dari game ini"

"Hee, bisahkah kamu benar-benar memainkan RPG normal untuk jangka waktu lama? ... ..Huh, levelmu sangat tinggi? !!"

"Lumayanlah."

Melihat wajah terkejut dari Katsuki, Dia(Taiyou) cukup puas dengan reaksi yang dia dapatkan, dan Dia merasa sedikit bangga jadi dia menjawab dengan puas.

"Game ini hanya bisa naik ke level maksimum 255 sebelum perhitungannya sudah tidak dapat dinaikan. Sepertinya aku pikir aku bisa melakukannya besok."

"Begitukah? Tampaknya membutuhkan begitu banyak ketekunan untuk level up. Itu luar biasa, jika kamu level up sebanyak itu  last boss seharusnya hanya sepotong kue."

"Eh? Tidak ada hal seperti mengalahkan  last bossnya tahu?"

Taiyou mengangkat wajahnya dan memiliki ekspresi yang mengatakan,

"Apa yang kamu maksud?"

"Kamu tidak bisa mengalahkan  last boss? Lalu apa gunanya menaikkan levelmu?"

"........Karena ada experience points untuk di tingkatkan?"

"Aku tidak mengerti yang kamu maksud! Itu bahkan lebih membingungkan daripada mendaki gunung!"

Katsuki keras merecoki Taiyou.

"Maksudku, jika kau bahkan tidak dapat mengalahkan  last boss, mengapa kau berusaha keras untuk meningkatkan levelmu? Apakah benar-benar menyenangkan?"

"Ini benar-benar menyenangkan, karena ketika kamu meningkatkan level mu dalam permainan, kamu akan menjadi lebih kuat!"

"Nah fakta itu benar, semua game dibuat untuk menjadi seperti itu."

"Itulah alasanku untuk bermain."

"???"

Mendengar respon Taiyou, Katsuki memiringkan kepalanya dan memiliki ekspresi kebingungan di wajahnya.

Meskipun itu bukan merupakan hal yang kompleks, Ketika Taiyou mencoba untuk menjelaskan kepada orang lain secara rinci, semua  yang dia dapatkan adalah ekspresi aneh sebagi imbalannya, karena itu Taiyou tidak menjelaskannya lebih jauh.

Dia hanya terdiam, dan tetap berjalan, mengulang kembali permainanya untuk meningkatkan poin experience.

Prajurit perempuan dalam game terus mengalahkan monster berwarna abu-abu gelap.
(E/N : warna monsternya udah berubah, dah gitu doang,…)

Meskipun jumlah experience yang moster itu berikan tidaklah besar, moster sejenis ini paling mudah untuk dikalahkan, dan dalam game ini itu adalah cara yang paling efisien untuk grinding  poin experience.
(E/N : grinding dalam sebuah game itu pengulangan misi atau quest, bias juga lawan monster yang sama untuk mendapatkan; biasanya tittle, sub job, dan yang paling sering buat dapetin XP melimpah,…)

Meskipun ia tidak menghitung dengan benar dan tidak bisa mengatakannya dengan pasti, berapa kali ia telah mengalahkan moster tertentu dapat diperkirakan lebih dari 10.000 kali.

Mengetahui fakta tersebut, daripada menyebutnya permainan, itu lebih masuk akal dengan menyebutnya sebuah tugas. Namun, Taiyou tidak keberatan dengan fakta ini sama sekali.



Bahkan jika itu adalah tugas, jika memungkinkan Dia untuk menaikkan levelnya, Dia dengan senang hati dan terus menerus akan mengulanginya.

Dia adalah tipe manusia seperti ini

Meskipun Katsuki berjalan berdampingan dengan Taiyou yang fokus pada game, beberapa waktu kemudia. Dia menjumpai beberapa teman dekatnya, dan Dia mengangkat tangannya untuk menyapa mereka.

"Selamat pagi, Kazane-chan, Kotone-chan dan Suzune-chan. Bahkan saat ini  kecantikkan yang kalian pancarkan dikalikan dengan 3! Oh BTW, aku kebetulan mendengar gosip kemarin, aku mendengar bahwa karena kalian kembar tiga, kalian menyukai orang yang sama, apakah itu benar? "

Taiyou mengangkat kepalanya dan melihat sekilas pada mereka. Orang yang sedang diajak bicara Katsuki pada saat itu adalah Tiga gadis kembar. Meskipun mereka kembar tiga, mereka agak berbeda dari kembar tiga lainnya, karena mereka adalah gadis yang sangat terkenal. Tidak hanya mereka benar-benar imut, mereka sangat populer dan memiliki status selebriti.

Mendengar perkataan dari Katsuki, Taiyou memikirkan, kalau saja Aku bisa mendapatkan pacar secantik gadis-gadis itu ...... tapi dia dengan cepat menampik imajinasinya.

Lagipula Dia hanyalah seorang pemuda biasa sementara mereka adalah figure yang  sangat diinginkan banyak orang, Dia memikirkannya sendiri untuk kedua kalinya, sebelum Dia kembali kedalam dunia gamenya sendiri.

Bahkan di sekolah Taiyou, menghabiskan waktu luangnya untuk menaikkan level.
Bahkan jika hanya ada satu menit waktu untuk istirahat, dia akan segera menarik keluar ponsel pintarnya, peta peta pochi pochi (suaranya ketika menekan tombol pada telepon) Dia akan mendedikasikan waktunya untuk membantai moster yang sama dengan karakter prajurit wanitanya lagi dan lagi.

Setelah sekian lama bekerja keras untuk menaikan level, bahkan ketika Dia baru memainkan game Dia akan sesegera mungkin mencari celah dimana tempat Dia akan melakukan leveling dan mengalahkan moster yang memberi experience paling banyak.

Bahkan sekarang, Dia menemukan tempat berburu yang sempurna. Yang memberinya poin experience tertinggi, dan ia akan memfokuskan semua upaya pada grinding untuk menaikan levelnya.

Tepat sepulang sekolah, jumlah experience yang terakumulasi dalam karakternya akhirnya mencapai 99%. Dia memperkirakan bahwa Dia bisa menaikan level setiap 30 menit menurut metode gila ini.

Baginya menyelesaikan game bukan berarti akhir dari cerita atau dengan mengalahkan last boss, itu adalah tentang level tertinggi.

Dengan kata lain, karena Dia semakin mendekati bagian akhir dari game, ketegangan secara alami mencapai puncaknya.

Sama seperti ketika Dia pergi ke sekolah, Dia mengambil jalan yang sama disaat perjalanan pulang, Dia berjalan seperti biasa sementara bermain game pada ponsel pintarnya.

(Tinggal sedikit lagi ......... .99.51, 99,52, 99,53 ...... ..)

Setiap moster yang Dia kalahkan dia naik 0,01% EXP, pada awalnya terkumpul sangat 
cepat, namun, sekarang dia begitu dekat dengan tujuannya, setiap persen menghitung mundur. Detak jantungnya mulai terpaacu, dan dia melakukan sesuatu yang tidak biasanya Dia lakukan, yaitu mengkonfirmasi setiap kali ia mendapatkan experience.

Dia menjadi bersemangat, dan sekarang hanya itu yang memenuhi kepalanya.

Karena itu, kebiasaan yang biasanya Dia lakukan tanpa di sadari tealah di lupakan, dan Dia akhirnya tidak melakukannya.

Kebiasaan yang dilakukan baru-baru ini sudah Dia selesaikan(Leveling), sementara itu kebiasaanya yang lain benar-benar Dia abaikan.

Dia tidak memperhatikan kemana arahnya berjalan.

--- Donn! (Suara benturan)

Tiba-tiba penglihatannya gelap, dia tertabrak sesuatu tepat di depannya, dan pada saat yang sama jeritan kecil terdengar.

Pada saat Dia merayakan kegembiraannya, ponsel pintarnya tergelincir dari tangannya yang berkeringat dan terlempar.



"Ahh ......"

Ponsel pintar itu terbang menjauh seperti parabola yang terbang menyusuri ruang angkasa dan dia melihat semua kejadian itu dalam gerakan lambat.

Ini hampir seolah-olah dunianya telah berhenti dan perasaan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Dia memahami itu dengan intuisinya, Dia dengan putusasa mencoba meraih tali pada teleponnya dengan susah payah.

Namun, tubuhnya tidak dapat menurutinya. Meskipun otaknya tengah berpikir dengan cepat, namun Dia tidak lebih dari seorang manusia.

Perlahan-lahan tali pada telepon itu semakin menjauh dari jemarinya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan telepon itu kembali, tapi tubuhnya tidak dapat bereaksi.

Hanya dalam angannya Dia mampu meraih telepon tersebut. Beberapa saat kemudian, ponsel pintar yang tidak dapat ia raih mulai terjatuh--

--- DOKA! BAKI BAKI BAKI! (Suara ponsel terjatuh)

Ponsel yang jatuh ke jalan, tertabrak truk dan menjadi potongan-potongan kecil, ia tidak bisa mempercayai apa yang sedang dia lihat ataupun memproses informasi dalam otaknya, sehingga yang dapat Dia lakukan hanyalah menatap tercengang pada pecahan ponselnya.

Dia tidak mengetahui tentang bagaimana Dia dapat kembali sampai ke kamarnya. Sebelum Dia menyadarinya, Dia sudah berada di dalam satu ruangan selebar 6 tatami, dan pecahan dari ponsel pintarnya yang tersisa tergeletak di mejanya sementara dia menatap kosong setiap bagian pecahan ponsel pintarnya.

Barang  yang paling berharga yang Dia miliki sudah tidak ada lagi, itu karena kerusakan telepon yang terjadi tidaklah sekedar layar retak yang menyerupai sarang laba-laba, itu lebih fatal dan benar-benar dilindas bagaikan debu.

Tiba-tiba, sesuatu yang masuk bidang penglihatannya.
Itu adalah benda yang terletak di samping meja, di dalam rak buku kayunya. Didalam rak buku terdapat beberapa jenis permainan dan tempat menyimpan data memori, tidak hanya itu ada juga ponsel pintar dari generasi sebelumnya yang telah Dia gunakan .

Semua hal memiliki satu kesamaan, yaitu, berisi semua data yang telah Dia kumpulkan, dan pada setiap ponsel pintar memiliki karakter sudah mencapai tingkat maximum di dalamnya.

Melihat harta berharganya, perasan depresi yang telah menjatuhkannya pada tingakat terdasar kini digantikan dengan motivasi yang membara.

Dia menatap tajam pada ponsel pintarnya yang telah hancur.

"Kali ini, aku tidak akan gagal untuk level up ke level tertinggi oke!"

Dia telah bersumpah. Kemudian, seakan menanggapi sumpahnya.

"Apakah kamu ingin level up?"

"Eh?"

"Apakah kamu ingin meningkatkan level mu?"

Seakan salah dengar, Dia mendengar gema dari suara seorang wanita di dalam kepalanya.

"Si, siapa itu? Siapa yang berbicara kepadaku?"

"Ini aku, Ini aku, Hei di sini ~"

Seolah-olah seseorang sedang mempermainkannya.

"Di mana kau, tunjukkan dirimu!"

Taiyou dengan cepat berdiri dan berlari ke arah sapu yang terdapat di kamarnya, Dia melanjutkan untuk mengambil sikap waspada dengan menggengam sapu di tangan.

"Oke, Tunggu sebentar ~"

Selang beberapa saat, serpihan ponsel yang berada di mejanya mulai bersinar. Setelah itu, serpihan ponselnya berkumpul dan berputar dalam kecepatan tinggi seperti tornado, kemudian berubah menjadi partikel cahaya. Partikel cahaya terus menerus berkumpul menjadi gumpalan padat ......... kemudian mulai berubah bentuk menyerupai manusia.


Jika seseorang mendiskripsikannya, seperti salah satu makhluk dari dunia fantasi, makhluk yang disebut peri.

Taiyou benar-benar bingung dan Dia tidak bisa berbicara. Yang sebelumnya hanyalah sebuah ponsel pintar, dan diluar dugaan berubah menjadi peri sungguhan!